
Takengon|mediantara.co.id|– Di tengah duka dan kepungan bencana alam yang belum usai, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Pariwisata justru menuai kemarahan publik. Tokoh muda Gayo, Edi Syahputra Linge, melontarkan kecaman keras terhadap rencana penyelenggaraan pacuan kuda dengan anggaran fantastis Rp480 juta yang dinilainya tidak berperikemanusiaan.
“Dinas Pariwisata telah membuang malu dan kehilangan hati nurani. Di saat tanah kami longsor, rumah kami terendam, dan warga masih mengungsi, mereka malah sibuk berpesta pora dengan uang rakyat,”ujar Edi dengan nada geram, Selasa (14/04/2026).
Edi menilai alasan yang dikemukakan Dinas Pariwisata bahwa kegiatan tersebut untuk “trauma healing” adalah sebuah kebohongan publik yang tidak masuk akal.
Ia mempertanyakan siapa sebenarnya yang menikmati gelaran itu, apakah korban banjir dan longsor yang sedang berjuang di pengungsian, atau hanya segelintir elit dan kalangan tertentu yang haus akan hiburan.
“Jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai panggung pencitraan. Trauma healing macam apa yang biayanya nyaris setengah miliar, sementara warga masih kelaparan dan hidup dalam ketakutan akan bencana susulan. Ini bukan pemulihan, ini pemborosan dan ketidakpekaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Edi mengkritik alokasi dana sebesar Rp480 juta yang menurutnya sangat tidak tepat sasaran. Ia mendesak agar dana tersebut segera dialihkan untuk langkah-langkah darurat dan antisipasi bencana, mengingat curah hujan masih tinggi hingga saat ini. Belasan ruas jalan masih tertimbun longsor, akses warga terputus, dan genangan air masih merendam permukiman.
“Bukalah mata dan telinga, Dinas Pariwisata, Rakyat butuh alat berat untuk membersihkan longsor, bukan butuh kuda berlari. Rakyat butuh pompa air dan makanan, bukan hiburan sesaat. Ini kegilaan anggaran di tengah musibah,” kecamnya.
Edi juga menyoroti kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Hunian Sementara (Huntara) tak kunjung rampung, bantuan belum merata, sementara petani dan pekebun kehilangan mata pencarian tanpa kejelasan ganti rugi. Dalam situasi seperti ini, menurutnya, menggelar hajatan besar adalah bentuk penghinaan terhadap penderitaan rakyat.
Ia kemudian melontarkan kritik pedas kepada Bupati Aceh Tengah. Edi menilai jika kepala daerah tidak bertindak tegas dan hanya diam, maka ia hanya akan dikenang sebagai pemimpin tanpa bobot dan tanpa keberanian membela rakyatnya.
“Saya serukan kepada Bupati, tunjukkan bahwa Anda punya hati dan nyali. Batalkan kegiatan ini sekarang. Jika tetap dipaksakan, maka kami, rakyat Aceh Tengah, akan menyatakan bahwa pimpinan dan jajarannya sudah mati hati nuraninya. Tidak pantas memimpin di tengah bencana,” tutup Edi
Laporan : MWD
