Pondok Pesantren Al-Ishlah Ciapus Bogor Gelar Pengajian Tafsir Jalalain dan Tasyakuran Ke 1 Tahun

Bogor – Mediantara.co.id Pondok Pesantren Al-Ishlah Cabang Ciapus Bogor selenggarakan pengajian bulanan Tafsir Jalalain dan peringatan 1 tahun berdirinya pondok pesantren Al-Ishlah cabang Ciapus, bertempat di Aula pondok, Ahad (02/06/2024).

Pengajian Tafsir Jalalain ke 6 dengan tema “From Zero To Hero”  tersebut diasuh langsung oleh pimpinan pondok Al-Ishlah Ciapus, KH. Moestaqim Dahlan, S.Pd., S.H., S.E., M.M.

Kegiatan Tafsir Jalalain diawali dengan sholat dzuhur berjamaah dan makan nasi kebuli berjamaah.

Turut berhadir dalam kegiatan pengajian Tafsir Jalalain, Sekjend IKAPI (Ikatan Keluarga besar Alumni pondok pesantren Al-Ishlah Bondowoso Jawa Timur) Ust. Arisandi Hidayatullah beserta rombongan, alim ulama’, pejabat serta tokoh masyarakat suka resmi ikut serta memeriahkan tasyakuran 1 tahun Al-Ishlah Cabang Ciapus Bogor.

Sebagai Informasi, Tafsir Jalalain yang diampu langsung oleh Pimpinan Pondok Al-Ishlah Ciapus memilik Filosofi tersendiri, yakni:

Kedah Kahartos Karaos: 

Kedah berarti “harus” atau “wajib.”Kahartos berarti “dimengerti” atau “dipahami.” Karaos berarti “dirasakan.”

Secara keseluruhan, “kedah kahartos karaos” berarti sesuatu yang harus dipahami dan dirasakan. Frasa ini menekankan pentingnya tidak hanya memahami secara intelektual keilmual yang diperoleh tetapi juga merasakan secara emosional atau spiritual dari pengajian yang diikuti.

Pengarah, Pangaruh, Pangarih:

Pengarah secara makna: Pemberi arahan, panduan, atau instruksi. Konteks: Bisa merujuk pada orang atau hal yang memberikan arahan atau panduan.

Pangaruh secara makna: Pengaruh atau dampak. Konteks: Merujuk pada efek atau akibat yang ditimbulkan oleh suatu hal atau tindakan terhadap hal lain. Dalam hal ini, Tafsir Jalalain dapat memberi dampak pada perubahan individu dan masyarakat.

Pangarih secara makna: Mirip dengan pengaruh, tetapi sering digunakan dalam konteks lebih spesifik seperti inspirasi atau daya tarik. Konteks: Merujuk pada sesuatu yang mengilhami atau menarik perhatian seseorang.

Ketiga istilah tersebut sering digunakan dalam bahasa Sunda untuk mengungkapkan berbagai bentuk interaksi dan dampak antara individu atau entitas. (Fauzan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *