Lingkungan Semakin Sempit, Ancaman Semakin Besar;  Pemuda Peduli Lingkungan  Minta Relokasi Depot Pertamina Sibolga

Sibolga, Mediantara.co.id — Suara perlawanan atas keberadaan Depot BBM PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sibolga tak hanya datang dari mahasiswa dan tokoh masyarakat. Kelompok peduli lingkungan pun turun tangan, menyuarakan keresahan yang selama ini kerap terabaikan. Bagi mereka, ini bukan sekadar urusan jarak tangki BBM ke rumah warga, tapi juga soal ruang hidup dan kelestarian lingkungan yang kian tergerus.

Ganda Anugrah Larosa, Koordinator Pemuda Peduli Lingkungan Sibolga-Tapanuli Tengah, dengan tegas menyebut bahwa kondisi kawasan sekitar Depot Pertamina kini menjadi bom waktu ekologis yang siap meledak kapan saja.

“Lingkungan kami semakin padat, ruang terbuka semakin sempit, vegetasi penyangga nyaris tidak ada. Dalam situasi seperti ini, keberadaan Depot BBM justru memperbesar potensi bencana,” ujar Ganda saat ditemui usai penyerahan surat resmi permintaan relokasi, Rabu (2/7/2025).

Menurut Ganda, kawasan Pasar Belakang tempat Depot Pertamina berdiri dulunya masih memiliki ruang terbuka dan vegetasi yang cukup. Namun seiring waktu, perkembangan pemukiman, pertumbuhan penduduk, dan aktivitas perdagangan membuat ruang hijau semakin menyempit.

“Bahkan upaya penanaman mangrove yang pernah dilakukan di sekitar kawasan ini tidak bisa sepenuhnya menjadi solusi. Kenyataannya, keterbatasan ruang dan kondisi geografis membuat mitigasi risiko tidak efektif,” tegasnya.

Bagi Ganda dan kelompoknya, relokasi Depot adalah bagian dari upaya penyelamatan lingkungan. Sebab, selain ancaman kebakaran atau ledakan, keberadaan Depot juga berisiko terhadap pencemaran udara, air, dan tanah di kawasan padat penduduk tersebut.

Ia menilai, sejak awal keberadaan Depot di kawasan ini sudah tidak ideal secara tata ruang. Apalagi, berdasarkan RTRW Kota Sibolga Nomor 2 Tahun 2018, kawasan tersebut seharusnya difokuskan sebagai kawasan perdagangan dan pemukiman, bukan industri berisiko tinggi seperti Depot BBM.

“Kalau kita bicara tata ruang yang berwawasan lingkungan, Depot seperti ini harus dipindahkan ke wilayah yang lebih luas, yang jauh dari pemukiman, dan memiliki buffer zone yang memadai,” ungkapnya.

Ganda juga mengingatkan bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan dan keselamatan warga. Menurutnya, dalih keterbatasan lahan tidak bisa lagi dijadikan alasan oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk menunda relokasi.

“Lahan di Kabupaten Tapanuli Tengah sangat luas. Kalau memang ada kemauan, pasti ada jalan untuk relokasi. Tapi kalau terus ditunda, kita semua yang akan menanggung risikonya,” katanya.

Sebagai aktivis lingkungan, Ganda bersama Pemuda Peduli Lingkungan berkomitmen untuk terus mengawal isu ini. Mereka juga mengajak masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya tata ruang yang aman dan ramah lingkungan.

“Kita harus berpikir jangka panjang. Jangan sampai karena kelalaian hari ini, kita kehilangan lingkungan yang sehat dan nyawa warga di masa depan. Relokasi Depot adalah langkah penyelamatan, baik bagi manusia maupun lingkungan,” tutupnya***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *