GMNI Sibolga; Keselamatan Ibu, Anak-anak, dan Warga Bukan Untuk Dikorbankan, Segera Relokasi Depot Pertamina Sibolga

Sibolga, Mediantara.co.id — Di tengah barisan mahasiswa yang menyuarakan desakan relokasi Depot BBM Pertamina Sibolga, suara perempuan tak bisa lagi diabaikan. Tiara Suryani Siregar, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sibolga, menjadi salah satu sosok yang aktif di garda depan perjuangan ini.

Bagi Tiara, isu relokasi Depot bukan hanya soal jarak antara tangki bahan bakar dan rumah warga, lebih dari itu, ini adalah soal masa depan, soal keselamatan generasi muda, dan khususnya kaum perempuan yang selama ini paling merasakan dampaknya.

“Kalau ada insiden seperti kebakaran atau ledakan, siapa yang paling rentan? Ibu-ibu, anak-anak, dan orang tua. Mereka yang paling sulit menyelamatkan diri. Ini yang sering dilupakan saat bicara soal keselamatan,” ujar Tiara dengan nada tegas, Rabu (2/7/2025), usai bersama aliansi mahasiswa dan masyarakat menyerahkan surat resmi kepada Pimpinan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Sibolga.

Tiara mengaku, keresahan itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya sebagai aktivis mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat Sibolga yang melihat langsung bagaimana lingkungan Pasar Belakang semakin padat dan berisiko.

Ia kerap mendengar keluhan dari para ibu rumah tangga yang takut jika sewaktu-waktu terjadi musibah. Bayangan tragedi Plumpang di Jakarta, di mana kobaran api melalap rumah-rumah dan memakan korban jiwa, menjadi mimpi buruk yang terus menghantui.

“Yang sering dilupakan adalah ketakutan itu terus hidup di benak warga, terutama perempuan. Kalau sudah malam, kadang-kadang suara truk tangki yang keluar masuk Depot itu saja sudah membuat cemas,” katanya.

Sebagai Ketua GMNI, Tiara menegaskan bahwa perjuangan ini adalah perjuangan bersama, lintas organisasi, lintas gender, dan lintas usia. Baginya, ini adalah panggilan nurani untuk memastikan keselamatan seluruh warga tanpa terkecuali.

Ia pun menyoroti lemahnya perhatian terhadap aspek sosial dan psikologis warga sekitar Depot. Selama ini, kata dia, perhitungan hanya berkutat pada aspek teknis, lahan, dan keuntungan perusahaan, tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang lebih luas.

“Keselamatan itu bukan cuma soal hitungan meter atau pagar tinggi. Ini soal rasa aman warga, terutama perempuan dan anak-anak. Kami berhak hidup tanpa dihantui rasa takut setiap hari,” tegasnya.

Tiara juga berharap, dengan adanya keterlibatan mahasiswa, khususnya perempuan, suara hati masyarakat lebih didengar, bukan lagi diabaikan seperti selama ini.

Sebagai penutup, ia mengingatkan, keberanian mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan, membuat kajian, hingga mengirim surat resmi ke Pertamina dan pemerintah bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi masa depan yang lebih aman.

“Kalau kami diam, siapa lagi yang peduli? Kalau bukan sekarang, mau tunggu sampai ada korban dulu? Keselamatan warga adalah tanggung jawab kita semua. Relokasi Depot adalah keharusan, bukan pilihan,” pungkas Tiara.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *